Sumber: Google Image
Mau tau
bagaimana cara mendapatkan malam lailatul qadar?
Apa saja
tanda-tanda dari turunnya malam lailatul qadar?
Dinamakan
lailatul qadar karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah swt
untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun
ini’ Lailatul Qadar itu terjadi dari waktu malam dimulai dari tenggelamnya
matahari hingga terbit fajar shubuh. Lailatul qadar
adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga
terbit fajar, pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan
dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia
hingga terbit fajar. Para malaikat dan Jibril as turun dengan membawa rahmat
atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan
ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang.
Allah
SWT berfirman:
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya
untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit
fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5)
Cara menghidupkan lailatul qadar adalah
dengan menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh
malam. Ada ulama yang mengatakan bahwa
menghidupkannya bisa hanya sesaat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ
لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ
كَقِيَامِ لَيْلَةٍ
“Siapa yang menghadiri shalat
‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan
Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim no. 656 dan Tirmidzi no. 221).
Amalan pada Malam Lailatul Qadar
Menghidupkan malam lailatul qadar
pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an.
Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar
berdasarkan riwayat hadits:
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam
lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, makadosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR. Bukhari no. 1901)
Menghidupkan malam lailatul qadar bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan:
2)
Perbanyak
do’a: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni.
Dari
‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-,
ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah
lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Berdoalah: Allahumma innaka ‘afuwwun
tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau
mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR.
Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.
Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
3) Perbanyak tilawah Al-Qur’an
4) Perbanyak dzikir
5) Perbanyak amal-amal shaleh lainnya
Tanda-Tanda Turunnya Malam Lailatul
Qadar
Seorang muslim tidak perlu memaksakan diri
mencari-cari tanda-tanda malam lailatul qadar atau melihatnya. Hendaknya fokus
pada 10 malam terakhir untuk beribadah. Hikmah dirahasiakan kapan malam
tersebut agar terlihat siapa dari mereka yang memang bersungguh-sungguh mencari
keutamaan malam lailatul qadar. Namun sebagian orang bisa merasakan dan melihat
malam lailatul qadar.
Diantara tanda-tanda datangnya malam lailatul qadar adalah sebagai berikut:
1) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena para malaikat Jibril ‘alaihissalam malaikat turun pada malam tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qadar: 4).
2) Sabda
Rasulullah saw, ”Lailatul qadar adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak
dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh
Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.
3) Sabda
Rasulullah saw, ”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar lalu aku
dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan
tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar
setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)
4)
Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih
banyak turun ke bumi daripada jumlah
pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)
5) Rasulullah
saw berabda, ”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa
sinar.” (HR. Muslim)
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang
akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut.
Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.
Malam lailatul qadar terkadang bisa dilihat dan
dirasakan. Pertanyaan berikut diajukan kepada syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah,
“apakah lailatul qadar bisa dilihat oleh mata manusia? Karena sebagian orang
mengatakan jika mampu manusia melihat lailatul qadar maka ia akan melihat
cahaya di langit. Bagaimana Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dan para
sahabat melihatnya? Bagaimana seseorang bisa tahu bahwa ia melihat malam
lailatul qadar? Apakah ia tetap mendapat pahala jika pada malam itu ia tidak
melihatnya? Kami memohon penjelasan bersama dalilnya”.
Beliau
menjawab, “malam lailatul qadar bisa dilihat dengan mata bagi mereka yang
mendapat taufik dari Allah Subhanahu, dengan melihat
tanda-tandanya. Para sahabat radhiallahu ‘anhum melihat dengan
tanda-tandanya. Akan tetapi tidak melihatnya tidak menjadi penghalang
mendapatkan pahala bagi mereka yang beribadah karena beriman dan mengharap
pahala.
Terkait dengan berbagai tanda-tanda
Lailatul qadar yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi
mengatakan, ”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya
dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada
berarti Lailatul Qadar tidak terjadi malam itu, karena lailatul qadar terjadi
di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri
muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal
penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu
berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat
dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu
sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)
Lailatul
qadar merupakan rahasia Allah swt. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim
mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw, ”Carilah
dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR.
Bukhori Muslim).
Dari Ibnu
Umar bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika
salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di
tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)
Malam-malam
ganjil yang dimaksud dalam hadits diatas adalah malam ke- 21, 23, 25, 27 dan
29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara sebagaimana sering
kita saksikan maka malam-malam ganjil di beberapa negara menjadi melam-malam
genap di sebagian negara lainnya sehingga untuk lebih berhati-hati maka carilah
lailatul qadar di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Begitu pula dengan
daerah-daerah yang hanya berbeda jamnya saja maka ia pun tidak akan terlewatkan
dari lailatul qadar karena lailatul qadar ini bersifat umum mengenai semua
negeri dan terjadi sepanjang malam hingga terbit fajar di setiap negeri-negeri
itu.
Karena tidak ada yang mengetahui
kapan jatuhnya lailatul qadar itu kecuali Allah swt maka cara yang terbaik
untuk menggapainya adalah beri’tikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana
pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Dianjurkan pula bagi
setiap yang menginginkan lailatul qadar agar menghidupkan malam itu dengan
berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan
amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan
amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan
dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan
mengharapkan ridho Allah swt.
Wallahu
A’lam
Semoga Bermanfaat !
Sumber:



Tidak ada komentar:
Posting Komentar