Kamis, 23 Juni 2016

Cara dan Tanda-Tanda Mendapatkan Malam Lailatul Qadar






                                     Sumber: Google Image

Mau tau bagaimana cara mendapatkan malam lailatul qadar?
Apa saja tanda-tanda dari turunnya malam lailatul qadar?
Dinamakan lailatul qadar karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini’ Lailatul Qadar itu terjadi dari waktu malam dimulai dari tenggelamnya matahari hingga terbit fajar shubuh. Lailatul qadar adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan Jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang.
Allah SWT berfirman:
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5)
Cara menghidupkan lailatul qadar adalah dengan menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam. Ada ulama yang mengatakan bahwa menghidupkannya bisa hanya sesaat.
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim no. 656 dan Tirmidzi no. 221).


Amalan pada Malam Lailatul Qadar

Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an. Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan riwayat hadits:
Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, makadosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Menghidupkan malam lailatul qadar  bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan:
    1)    Perbanyak shalat sunnah
    2)    Perbanyak do’a: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni.
    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya        pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa  malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab    Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa  fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha  Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta  maaf, karenanya maafkanlah aku).”  (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits  ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan  bahwa hadits ini shahih).
3) Perbanyak tilawah Al-Qur’an 
4) Perbanyak dzikir
5) Perbanyak amal-amal shaleh lainnya

Tanda-Tanda Turunnya Malam Lailatul Qadar
Seorang muslim tidak perlu memaksakan diri mencari-cari tanda-tanda malam lailatul qadar atau melihatnya. Hendaknya fokus pada 10 malam terakhir untuk beribadah. Hikmah dirahasiakan kapan malam tersebut agar terlihat siapa dari mereka yang memang bersungguh-sungguh mencari keutamaan malam lailatul qadar. Namun sebagian orang bisa merasakan dan melihat malam lailatul qadar.
Diantara tanda-tanda datangnya malam lailatul qadar adalah sebagai berikut:
1) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena para malaikat Jibril ‘alaihissalam malaikat turun pada malam tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
                                                   تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qadar: 4).
2) Sabda Rasulullah saw, ”Lailatul qadar adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.
3) Sabda Rasulullah saw, ”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)
4) Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun   ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)
5) Rasulullah saw berabda, ”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.
Malam lailatul qadar terkadang bisa dilihat dan dirasakan. Pertanyaan berikut diajukan kepada syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, “apakah lailatul qadar bisa dilihat oleh mata manusia? Karena sebagian orang mengatakan jika mampu manusia melihat lailatul qadar maka ia akan melihat cahaya di langit. Bagaimana Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat melihatnya? Bagaimana seseorang bisa tahu bahwa ia melihat malam lailatul qadar? Apakah ia tetap mendapat pahala jika pada malam itu ia tidak melihatnya? Kami memohon penjelasan bersama dalilnya”.
Beliau menjawab, “malam lailatul qadar bisa dilihat dengan mata bagi mereka yang mendapat taufik dari Allah Subhanahu, dengan melihat tanda-tandanya. Para sahabat radhiallahu ‘anhum melihat dengan tanda-tandanya. Akan tetapi tidak melihatnya tidak menjadi penghalang mendapatkan pahala bagi mereka yang beribadah karena beriman dan mengharap pahala.
Terkait dengan berbagai tanda-tanda Lailatul qadar yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan, ”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qadar tidak terjadi malam itu, karena lailatul qadar terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)
Lailatul qadar merupakan rahasia Allah swt. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw, ”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)
Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits diatas adalah malam ke- 21, 23, 25, 27 dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara sebagaimana sering kita saksikan maka malam-malam ganjil di beberapa negara menjadi melam-malam genap di sebagian negara lainnya sehingga untuk lebih berhati-hati maka carilah lailatul qadar di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Begitu pula dengan daerah-daerah yang hanya berbeda jamnya saja maka ia pun tidak akan terlewatkan dari lailatul qadar karena lailatul qadar ini bersifat umum mengenai semua negeri dan terjadi sepanjang malam hingga terbit fajar di setiap negeri-negeri itu.
Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya lailatul qadar itu kecuali Allah swt maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beri’tikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Dianjurkan pula bagi setiap yang menginginkan lailatul qadar agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah swt.
Wallahu A’lam
Semoga Bermanfaat !

Sumber:



Senin, 20 Juni 2016

Hakikat Mencintai Karena Allah



Membangun konsep cinta suci sepertinya hanya akan terlihat indah secara teori saja. Namun, dalam actionnya tidaklah mudah jika tidak diimbangi dengan tingkat keimanan dan keyakinan yang tinggi tentang konsep Allah, janji Allah, dan pertolongan Allah.
Risalah Cinta suci, mencintai hanya karena Allah adalah konsep cinta terhadap sesama dengan capaian level cinta yang sangat berbobot.

Dalam sebuah kisah, suatu hal yang luar biasa dimana seorang muslimah dengan penuh keyakinan mau menerima dan mencintai calon pasangan hidupnya dengan tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan tingkat penghasilan jauh di bawahnya. Seorang muslimah perawan, mantan dosen, pengajar berpendidikan magister lulusan luar negeri, memiliki kemampuan intelektual tinggi dan mendapat berbagai penghargaan akademik bergengsi. Mau menerima, penuh keyakinan dan bahkan menyukai calon suaminya yang seorang duda, lulusan SMA, dengan pekerjaan sebagai penjual krupuk keliling yang baru saja dikenalnya. Dengan dasar pertimbangan utamanya adalah karena ketaqwa'annya. 

Dalam kisah ini, hikmah yang dapat dipetik adalah tentang tujuan dalam berumahtangga adalah semata-mata hanya mengharap ridho Allah. Dan pertimbangan utama adalah keyakinan yang kuat bila seseorang bertaqwa maka Allah pasti akan memberi akibat yang baik. Jika calon suami belum mampu maka Allah yang nantinya akan memampukan dan membahagiakan.

Ya.. begitulah jika seseorang mampu membangun konsep cinta suci yang dibarengi dengan keimanan, keyakinan yang kuat akan akan adanya konsep Allah, janji Allah dan pertolongan Allah maka mencintai karena Allah tidaklah akan menjadi konsep saja tapi Insya Allah, Allah lah yang akan menuntun hati kita agar yakin, ikhlas dan dimudahkan juga untuk mewujudkan cinta itu menjadi kenyataan.


Semoga bermanfaat !

Sabtu, 04 Juni 2016

Program Beasiswa Magister dan Doktor

Program Beasiswa Magister dan Doktor merupakan program beasiswa di dalam negeri maupun luar negeri yang bertujuan menyiapkan pemimpin bangsa dan profesional untuk menjadi lokomotif kemajuan Indonesia.
Diperuntukkan bagi putra-putri terbaik bangsa Indonesia, beasiswa ini difokuskan pada 6 (enam) bidang keilmuan yang menjadi prioritas Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk mendukung program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI), meliputi teknik, sains, pertanian, akuntansi/ keuangan, hukum dan agama.
A. Persyaratan Khusus
1) Telah menyelesaikan dan memperoleh gelar akademik:
    a. Sarjana / Sarjana Terapan untuk pelamar program Magister
    b.Magister untuk pelamar program Doktor
2) Usia maksimum bagi pelamar beasiswa pada saat penutupan pendaftaran adalah:
    a. 35 (tiga puluh lima) tahun untuk program Magister
    b. 40 (empat puluh) tahun untuk program Doktor
3) Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimum adalah:
   a. 3,00, pada skala 4, untuk lulusan Sarjana yang akan studi Magister
   b. 3,25, pada skala 4, untuk lulusan Magister yang akan studi Doktor
4) Kemampuan penguasaan bahasa asing:
    a. TOEFL ITP minimal 500 untuk studi pada program Magister/Doktor di perguruan tinggi dalam   negeri.
    b. TOEFL PBT minimal 550 atau yang setara untuk studi pada program Magister/Doktor di   perguruan tinggi luar negeri dan/atau telah memiliki Letter of Acceptance (LOA).
    c. Untuk pelamar yang memilih program studi Magister atau Doktor luar negeri yang tidak            menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar akademiknya, dapat menyesuaikan dengan persyaratan kemampuan berbahasa asing yang berlaku di perguruan tinggi tersebut.
5) Memahami dan menyetujui persyaratan dan ketentuan beasiswa sebagai berikut:
    a. menyelesaikan studi maksimal dalam 2 (dua) tahun untuk program Magister, sesuai masa
        studi yang berlaku;
   b. menyelesaikan studi maksimal dalam 4 (empat) tahun untuk program Doktor, sesuai masa
       studi yang berlaku.

Sumber:
www.lpdp.depkeu.go.id